PRAKTIKUM STATISTIK RADIASI LATAR


PRAKTIKUM STATISTIK RADIASI LATAR

( mengetahui frekuensi cacah latar yang terjadi , ketika jumlah cacah dalam 10 detik  diukur 100 kali)

ginger muler
             

Pengukuran intensitas radiasi yang dilakukan secara berulang pasti akan memperoleh hasil pengukuran yang berbeda-beda. Sehingga dalam pengukuran intensitas radiasi harus dilakukan secara berulang, baik beberapa kali atau dalam selang waktu cukup panjang, yang berarti akumulasi nilai dari pengulangan waktu beberapa detik. Nilai ukur sebenarnya diduga berada di dalam rentang nilai rata-rata ± nilai simpangannya.


Sebagaimana perhitungan matematika biasa, nilai rata-rata dapat dihitung

dengan persamaan berikut :


Sifat acak suatu pengukuran selalu mengikuti suatu distribusi tertentu, sebagai contoh eksperimen uang logam dan dadu di atas mengikuti distribusi binomial. Bila distribusi binomial tersebut mempunyai probabilitas sangat kecil maka akan berubah menjadi distribusi Poisson. Oleh karena aktivitas zat radioaktif bersifat acak maka intensitas radiasi yang terukurpun akan bersifat acak sehingga data hasil pengukurannya juga akan mengikuti distribusi Gauss atau poisson.

Distribusi poisson adalah
  • Distribusi nilai-nilai bagi suatu variabel random X (X diskret), yaitu banyaknya hasil percobaan yang terjadi dalam suatu interval waktu tertentu atau di suatu daerah tertentu.
  • Distribusi probabilitas diskret yang menyatakan peluang jumlah peristiwa yang terjadi pada periode waktu tertentu apabila rata-rata kejadian tersebut diketahui dan dalam waktu yang saling bebas sejak kejadian terakhir.
  • Probabilitas lebih dari satu hasil percobaan yang terjadi dalam interval waktu yang singkat atau dalam daerah yang kecil dapat diabaikan. Selain itu, Distribusi poisson banyak digunakan dalam hal berikut:
  • Rumus Pendekatan Peluang Poisson untuk Binomial


Apabila nilai harapan kejadian pada suatu interval adalah n, maka probabilitas terjadi peristiwa sebanyak m kali (m adalah bilangan bulat non negatif, k = 0, 1, 2, ...) maka sama dengan
 
dimana
  e adalah basis logaritma natural (e = 2.71828...)
m adalah jumlah kejadian suatu peristiwa  — peluang yang diberikan oleh fungsi ini
m! adalah faktorial dari m
n adalah bilangan riil positif, sama dengan nilai harapan peristiwa yang terjadi dalam interval tertentu.  jadi untuk nilai n yang memiliki frekuensi tertentu dapat dituliskan
 
Dimana f adalah frekuensi dari m. sedangkan m disini  adalah cacah latar yang terjadi dalam selang waktu tertentu.

Grafik sebaran distribusi poisson :
Perbandingan distribusi Poisson (titik hitam) dengan distribusi binomial dengan n = 10 (garis merah), n = 20 (garis biru), n = 1000 (hijau line). Semua distro memiliki rata-rata 5. Sumbu horizontal menunjukkan jumlah k acara. Perhatikan bahwa ketika n semakin besar, distribusi Poisson menjadi perkiraan semakin lebih baik untuk distribusi binomial dengan mean yang sama.

prinsip penggunaan metode diskusi dan pelaksanaann metode diskusi kelas | fisikadansains

 Prinsip Umum Penggunaan Metode Diskusi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan metode diskusi, antara lain sebagai berikut.

a.  Perumusan masalah atau masalah-masalah yang   didiskusikan agar dilakukan bersama-sama dengan siswa.
b.  Menjelaskan   hakikat masalah itu disertai tujuan   mengapa masalah
    tersebut dipilih untuk didiskusikan.
c.  Pengaturan peran siswa yang meliputi pemberian tanggapan, saran,
pendapat,   pertanyaan, dan   jawaban   yang   timbul untuk memecahkan masalah.
d.  Memberitahukan tata tertib diskusi.
e.  Pengarahan pembicaraan agar sesuai dengan tujuan.
f.  Pemberian bimbingan siswa untuk mengambil kesimpulan.

Langkah-Langkah Pelaksanaan Diskusi Kelompok
Langkah-langkah   diskusi sangat bergantung   pada   jenis diskusi yang digunakan. Hal ini dikarenakan tiap-tiap   jenis memiliki   karakteristik masing- masing. Seminar memiliki   karakteristik   yang berbeda dengan simposium,  brain   storming, debat,   panel, sindikat group dan lain-lain.   Demikian   pula  siposium dan yang lain-lain tersebut juga memiliki karakteristik   yang  berbeda satu dengan yang lainnya. Akibat   perbedaan karakteristik  tersebut, maka langkah dan atau   prosedur pelaksanaannya   berbeda   satu  dengan   yang   lain.   Meskipun demikian, secara umum untuk keperluan  pembelajaran di kelas, langkah-langkah   diskusi   kelas   dapat   dilaksanakan  dengan prosedur yang lebih sederhana. Moedjiono, dkk (1996)   menyebutkan
langkah-langkah   umum   pelaksanaan   diskusi   sebagai berikut ini.

a.  Merumuskan masalah secara jelas
b.  Dengan   pimpinan guru para siswa   membentuk   kelompok-kelompok  diskusi, memilih pimpinan diskusi (ketua, sekretaris,   pelapor), mengatur tempat   duduk,   ruangan, sarana, dan sebagainya sesuai dengan tujuan diskusi. Tugas   pimpinan diskusi antara lain: (1) mengatur   dan  mengarahkan diskusi, (2) mengatur "lalu lintas" pembicaraan.
c.  Melaksanakan diskusi. Setiap anggota diskusi hendaknya tahu   persis apa
    yang akan didiskusikan dan   bagaimana cara berdiskusi. Diskusi harus
    berjalan dalam   suasana bebas, setiap anggota tahu bahwa mereka
    mempunyai   hak bicara yang sama.
d.  Melaporkan   hasil   diskusinya. Hasil-hasil   tersebut   ditanggapi   oleh
semua siswa, terutama dari kelompok   lain. Guru   memberi   alasan atau penjelasan   terhadap   laporan tersebut.
e.  Akhirnya   siswa mencatat hasil diskusi, dan   guru   mengumpulkan laporan
    hasil diskusi dari tiap kelompok.

Budiardjo, dkk, 1994:20--23 membuat   langkah penggunaan metode diskusi melalui tahap-tahap berikut ini.

1.    Tahap Persiapan
a.    Merumuskan tujuan pembelajaran
b.     Merumuskan permasalahan dengan jelas dan ringkas.
c.     Mempertimbangkan karakteristik anak dengan benar.
d.     Menyiapkan kerangka diskusi yang meliputi: (1) menentukan dan
merumuskan aspek-aspek masalah,(2) menentukan alokasi waktu,(3) menuliskan garis besar bahan diskusi,(3) menentukan format susunan tempat,(4) menetukan aturan main jalannya diskusi.
e.     Menyiapkan fasilitas diskusi, meliputi: (1) menggandakan bahan diskusi,(2)
    menentukan dan mendisain tempat,(3) mempersiapkan alat-alat yang
    dibutuhkan.

2.    Tahap pelaksanaan
a.    Menyampaikan tujuan pembelajaran.
b.    Menyampaikan pokok-pokok yang akan didiskusikan.
c.    Menjelaskan prosedur diskusi.
d.    Mengatur kelompok-kelompok diskusi
e.    Melaksanakan diskusi.

3.    Tahap penutup
a.    Memberi kesempatan kelompok untuk melaporkan hasil.
b.    Memberi kesempatan kelompok untuk menanggapi.
c.    Memberikan umpan balik.
d.    Menyimpulkan hasil diskusi.

Peranan Guru Sebagai Pemimpin Diskusi
Untuk mempertahankan kelangsungan, kelancaran dan efektivitas diskusi,   guru sebagai   pemimpin   diskusi   memegang peranan   menentukan. Mainuddin, Hadisusanto   dan   Moedjiono, 1980:8--9, menyebutkan sejumlah peranan yang harus dimainkan guru sebagai pemimpin diskusi, adalah berikut
ini.
a.     Initiating,   yakni menyarankan gagasan baru,   atau   cara baru dalam
    melihat masalah yang sedang didiskusikan.
b.    Seeking   information, yakni meminta fakta   yang   relavan atau informasi
yang otoritarif tentang topik diskusi.
c.     Giving   information,   yakni   fakta   yang   relavan    atau menghubungkan
    pokok diskusi dengan   pengalaman   pribadi peserta.
d.     Giving   opinion,   yakni memberi pendapat   tentang   pokok yang sedang
dipertimbangkan kelompok, bisa dalam   bentuk menantang konsesus atau sikap "nrimo" kelompok.
e.     Clarifying,   yakni merumuskan kembali pernyataan   sesorang;
    memperjelas pernyataan sesorang anggota.
f.    Elaborating,   yakni mengembangkan   pernyataan   seseorang atau memberi
contoh atau penerapan.
g.    Controlling,   yakni   menyakinkan   bahwa   giliran   bicara merata;
menyakinkan   bahwa anggota yang   perlu   bicara, memperoleh giliran
bicara.
h.    Encouraging,   yakni   bersikap   resetif   dan   responsitif terhadap
pernyataan serta buah pikiran anggota.
i.    Setting   Standards, yakni memberi atau meminta   kelompok menetapkan,
kriteria untuk menilai urunan anggota.
j.    Harmonizing,   yakni   menurunkan   kadar   ketegangan   yang terjadi dalam
diskusi.
k.    Relieving   tension, yakni melakukan   penyembuhan   setelah terjadinya
tegangan.
l.     Coordinating,   yakni   menyimpulkan   gagasan   pokok   yang timbul   dalam
    diskusi, membantu   kelompok   mengembangkan gagasan.
m. Orientating, yakni menyampaikan posisi yang telah   dicapai   kelompok
    dalam diskusi dan   mengarahkan   perjalanan diskusi selanjutnya.
n.     Testing, yakni menilai pendapat dan meluruskan   pendapat kearah yang
    seharusnya dicapai.
o.     Consensus   Testing,   menialai tingkat   kesepakatan   yang telah dicapai
    dan menghindarkan perbedaan pandangan.
p.     Summarizing,   yakni   merangkum   kesepakatan   yang   telah dicapai.

PENERAPAN METODE DISKUSI DAN COOPERATIVE LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KELAS | fisikadansains

creative learning



 
 Dalam pembelajaran terdapat berbagai macam metode pembelajaran. Dimana setiap model pembelajaran memiliki keunggulan tersendiri dan karakteristik yang tersendiri pula. Bila kemarin saya telah memposting makalah tentang metode-metode pembelajaran kini saya akan lebih berfokus pada metode diskusi atau cooperative learning, dimana batasan masalah yang akan saya ambil disini adalah pengertian dari metode diskusi itu sendiri, kelebihan metode diskusi , jenis-jenis diskusi dan saran-saran seputar penerapan metode diskusi /cooperative learning. Bila anda tertarik mempalajari metode ini ataupun ingin mencari tahu cara membangun diskusi kelas yang baik  maka saya ucapkan silahkan membaca.

INDUKSI ELEKTROMAGNETIK GGL Induksi

Rating: 4.5
INDUKSI ELEKTROMAGNETIK
GGL Induksi 


Michael Faraday (1791-1867), seorang ilmuwan berkebangsaan Inggris, membuat hipotesis (dugaan) bahwa medan magnet seharusnya dapat menimbulkan arus listrik. Untuk membuktikan kebenaran hipotesis Faraday.

Berdasarkan percobaan, ditunjukkan bahwa gerakan magnet di dalam kumparan menyebabkan jarum galvanometer menyimpang. Jika kutub utara magnet digerakkan mendekati kumparan, jarum galvanometer menyimpang ke kanan. Jika magnet diam dalam kumparan, jarum galvanometer tidak menyimpang. Jika kutub utara magnet digerakkan menjauhi kumparan, jarum galvanometer menyimpang ke kiri. Penyimpangan jarum galvanometer tersebut menunjukkan bahwa pada kedua ujung kumparan terdapat arus listrik. Peristiwa timbulnya arus listrik seperti itulah yang disebut induksi elektromagnetik. Adapun beda potensial yang timbul pada ujung kumparan disebut gaya gerak listrik (GGL) induksi.

Terjadinya GGL induksi dapat dijelaskan seperti berikut. Jika kutub utara magnet didekatkan ke kumparan. Jumlah garis gaya yang masuk kumparan makin banyak. Perubahan jumlah garis gaya itulah yang menyebabkan terjadinya penyimpangan jarum galvanometer. Hal yang sama juga akan terjadi jika magnet digerakkan keluar dari kumparan. Akan tetapi, arah simpangan jarum galvanometer berlawanan dengan penyimpangan semula. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penyebab timbulnya GGL induksi adalah perubahan garis gaya magnet yang dilingkupi oleh kumparan.
Menurut Faraday, besar GGL induksi pada kedua ujung kumparan sebanding dengan laju perubahan fluks magnetik yang dilingkupi kumparan. Artinya, makin cepat terjadinya perubahan fluks magnetik, makin besar GGL induksi yang timbul. Adapun yang dimaksud fluks nmgnetik adalah banyaknya garis gaya magnet yang menembus suatu bidang.


Generator 

Generator atau pembangkit listrik yang sederhana dapat ditemukan pada sepeda. Pada sepeda, biasanya dinamo digunakan untuk menyalakan lampu. Caranya ialah bagian atas dinamo (bagian yang dapat berputar) dihubungkan ke roda sepeda. Pada proses itulah terjadi perubalian energi gerak menjadi energi listrik. Generator (dinamo) merupakan alat yang prinsip kerjanya berdasarkan induksi elektromagnetik. Alat ini pertama kali ditemukan oleh Michael Faraday.
Berkebalikan dengan motor listrik, generator adalah mesin yang mengubah energi kinetik menjadi energi listrik. Energi kinetik pada generator dapat juga diperoleh dari angin atau air terjun. Berdasarkan arus yang dihasilkan. Generator dapat dibedakan menjadi dua rnacam, yaitu generator AC dan generator DC. Generator AC menghasilkan arus bolak-balik (AC) dan generator DC menghasilkan arus searah (DC). Baik arus bolak-balik maupun searah dapat digunakan untuk penerangan dan alat-alat pemanas. 


Generator AC 
Bagian utama generator AC terdiri atas magnet permanen (tetap), kumparan (solenoida). cincin geser, dan sikat. Pada generator. perubahan garis gaya magnet diperoleh dengan cara memutar kumparan di dalam medan magnet permanen. Karena dihubungkan dengan cincin geser, perputaran kumparan menimbulkan GGL induksi AC. OIeh karena itu, arus induksi yang ditimbulkan berupa arus AC. Adanya arus AC ini ditunjukkan oleh menyalanya lampu pijar yang disusun seri dengan kedua sikat. Sebagaimana percobaan Faraday, GGL induksi yang ditimbulkan oleh generator AC dapat diperbesar dengan cara:
  • memperbanyak lilitan kumparan,
  • menggunakan magnet permanen yang lebih kuat.
  • mempercepat perputaran kumparan, dan menyisipkan inti besi lunak ke dalam kumparan.
Contoh generator AC yang akan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari adalah dinamo sepeda. Bagian utama dinamo sepeda adalah sebuah magnet tetap dan kumparan yang disisipi besi lunak. Jika magnet tetap diputar, perputaran tersebut menimbulkan GGL induksi pada kumparan. Jika sebuah lampu pijar (lampu sepeda) dipasang pada kabel yang menghubungkan kedua ujung kumparan. lampu tersebut akan dilalui arus induksi AC. Akibatnya, lampu tersebut menyala. Nyala lampu akan makin terang jika perputaran magnet tetap makin cepat (laju sepeda makin kencang). 


Generator DC 

Prinsip kerja generator (dinamo) DC sama dengan generator AC. Namun, pada generator DC arah arus induksinya tidak berubah. Hal ini disebabkan cincin yang digunakan pada generator DC berupa cincin belah (komutator).







Transformator
Agar tidak berbahaya tegangan yang tinggi itu harus diturunkan terlebih dahulu sebelum arus listrik disalurkan ke rumah-rumah penduduk. Pada umumnya tegangan listrik yang disalurkan ke rumah-rumah penduduk ada dua macam, yaitu 220 volt dan 1l0 volt. Alat yang digunakan untuk menurunkan tegangan disebut transformator.
Bagian utama transformator adalah dua buah kumparan yang keduanya dililitkan pada sebuah inti besi lunak. Kedua kumparan tersebut memiliki jumlah lilitan yang berbeda. Kumparan yang dihubungkan dengan sumber tegangan AC disebut kumparan primer, sedangkan kumparan yang lain disebut kumparan sekunder.
Jika kumparan primer dihubungkan dengan sumber tegangan AC (dialiri arus listrik AC), besi lunak akan menjadi elektromagnet. Karena arus yang mengalir tersebut adalah arus AC, garis-garis gaya elektromagnet selalu berubah-ubah. Oleh karena itu, garis-garis gaya yang dilingkupi oleh kumparan sekunder juga berubah-ubah. Perubahan garis gaya itu menimbulkan GGL induksi pada kumparan sekunder. Hal itu menyebabkan pada kumparan sekunder mengalir arus AC (arus induksi). 
Berdasarkan rumus di atas kita dapat rnembedakan transformator menjadi dua macam. yaitu transformator step up dan transformator step down. Transformator .step up adalah transformator yang jumlah lilitan primernya lebih kecil dari pada lilitan sekunder. Oleh karena itu, transformator step up dapat digunakun untuk menaikkan tegangan AC.